JANGAN LIHAT DOSANYA, MELAINKAN KEPADA SIAPA DIA BERDOSA?!
لَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَارِ ذَنْبِكَ وَ لَكِنْ انْظُرْ لِمَنْ عَصَيْتَ
“Janganlah kamu memperhatikan kecilnya dosamu, tapi, perhatikanlah kepada siapa kamu bermaksiat.”
Ungkapan ini menjadi sorotan utama taushiyah yang disampaikan oleh al-Ustadz Husna Hisaba Kholid, S.Hum. melalui kegiatan Ihtifal Usbu’i pada hari Sabtu, 30 Agustus 2025. Pada kesempatan ini, kegiatan Ihtifal Usbu’i dipandu oleh Alwafa Nidzamul Alam (3 Tsanawiyah) sebagai MC (Master of Ceremony).
Muwashi’ yang pertama dalam kegiatan kali ini ialah, Wahfiyudin (2 Mu’allimien) yang menyampaikan taushiyah berbahasa Arab. Dalam taushiyahnya, Wahfi menjelaskan tentang pentingnya rasa syukur dalam kehidupan setiap hamba yang hidup di dunia. Bahwa di antara cara agar seorang hamba terjauh dari kemaksiatan dan kesombongan ialah dengan bersyukur. Hal ini beliau tegaskan dengan dalil Qs. Ibrahim [14]: 7;
وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ
“(Ingatlah) ketika Rabb-mu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.””
Oleh sebab itu, sikap syukur ini mesti dimiliki setiap manusia, karena nikmat Allah sangat luas, selain itu, agar menutup celah datangnya sikap sombong dari manusia, sebab kenikmatan yang dia rasakan di dunia.
وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَاۤۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورࣱ رَّحِیمࣱ
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. an-Nahl [16]: 18)
Selanjutnya, muwashi yang kedua adalah taushiyah yang dibawakan oleh Rani Mutia Sidqi (2 Mu’allimien) dengan berbahasa Inggris. Rani memulai taushiyahnya dengan salah satu sabda Nabi Saw. berikut:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ…
“Orang yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala ialah yang paling bermanfaat untuk yang lainnya…” (al-Mu’jam al-Kabīr lith-Thabarāni, no. 13.646)
Rani dalam hal ini menegaskan agar setiap orang bisa bermanfaat dengan mengupayakan saling menolong dalam kehidupannya. Hal ini diupayakan agar terjalin ikatan kuat antar-muslimin dalam rangka menjaga kekuatan muslim secara internal maupun eksternal. Selain menebar kebermanfaatan, beliau mengingatkan untuk menjaga kebermanfaatan itu dengan sebaik-baiknya mulai dari hal yang remeh. “Sebab bukan seberapa banyak kita melangkah, tapi, seberapa konsisten kita tetap berusaha untuk melangkah.” , ucapnya.
Setelah itu, muwashi ketiga yaitu taushiyah berbahasa Arab yang disampaikan oleh Atsila Naila al-Muwaffiq (1 Mu’allimien) berkenaan dengan Tauhid dalam Islam. Pada kesempatan ini, Atsila menjelaskan secara jeli bagaimana konsep tauhid dalam Islam, dengan menyoroti pernyataan sebagai berikut:
تَوْحِيْدُ اللهِ لَيْسَ لَهُ بِالتَّكَلُّمِ فَقَطْ وَ لَكِنْ بِأَعْمَالِنَا فِي الحَيَاةِ أَيْضًا…
“Tauhid kepada Allah bukan hanya melalui lisan saja, melainkan dengan perantara amal kita di dunia juga…”
Atsila mencoba menguraikan bahwa ternyata ketauhidan setiap orang akan selalu diuji melalui amalan yang ia lakukan. Tidak hanya berhenti pada lisan yang basah dari syahadat saja. Akan tetapi, juga menjadi amal yang membentuk ke dalam sikap orang tersebut menjadi pribadinya sebagai muslim/ah.
Kemudian, taushiyah diakhir oleh muwashi dari pihak asatidzah, al-Ustadz Husna Hisaba Kholid, S.Hum. Dalam kesempatan ini, al-Ustadz memulai taushiyahnya dengan mengutip ayat berikut:
یَـٰبُنَیَّ إِنَّهَاۤ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةࣲ مِّنۡ خَرۡدَلࣲ فَتَكُن فِی صَخۡرَةٍ أَوۡ فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰتِ أَوۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ یَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِیفٌ خَبِیرࣱ
“(Luqman berkata,) “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu dosa) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya (untuk diberi balasan). Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Mahateliti.” (Qs. Luqman [31]: 16)
Melalui ayat di atas, al-Ustadz menegaskan bahwa sebagai seorang hamba, jangan ada seorangpun yang menganggap dosanya itu remeh/kecil. Oleh sebab bagaimanapun kecilnya dosa tersebut, hakikatnya orang tersebut sedang berbuat salah di hadapan yang Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Pencipta. Maka dari itu, bukan tentang kecil/besar-nya dosa yang ia lihat. Melainkan, siapa yang mengawasi dan menghukum nantinya saat orang tersebut berbuat dosa; Allah Swt.
أَنَّ اللهَ عَلِيْمٌ بِكُلِّ أَفْعَالِنَا وَ أَقْوَالِنَا
“Sesungguhnya Allah maha mengetahui terhadap segala perbuatan dan perkataan kita” ucap beliau di akhir taushiyahnya.
Wal-`Llāh al-Muwaffiq ilā Ahsan ath-Tharīq
BTB
30 Agustus 2025 M/06 Rabi’ul Awwal 1447 H
Pukul 10.18 WIB.
